Tunjangan Bayi Jepang 30 Juta Per Tahun Per-anak | ahmadsarwat.com

Tunjangan Bayi Jepang 30 Juta Per Tahun Per-anak

Tue 6 May 2008 00:00 | 15327

Keluarga berencana atau pembatasan kelahiran mungkin sudah bukan hal yang asing lagi. Di zaman rezim Soeharto bahkan sampai diwajibkan dan dikampanyekan dimana-mana.

 Tapi di Jepang, pemerintahnya justru menggalakkan agar penduduk punya anak sebanyak-banyaknya. Diperkirakan dalam waktu 30 tahun lagi, penduduk Jepang akan menyusut dari 127 juta menjadi di bawah 100 juta.

Maka iming-imingnya sangat menggiurkan buat ukuran kita, PM Hatoyama yang dilantik 16 September 2009 menyebutkan angka USD 3.000 buat tunjangan anak. Jadi pameo banyak anak banyak rejeki nampak memang benar, setidakya di negeri matahari terbit itu.

Bayangkan kalau seorang pengangguran punya 5 anak, berarti pendapatan keluarga, tanpa bekerja, 3.000 x 5 = 15.000 dolar Amerika. Anggaplah mudahnya 1 dolar = Rp. 10.000, maka dalam setahun si pengangguran itu akan berpenghasilan 150 jutaan. Sebulan sama saja punya gaji buta lebih dari 10 juta.

Jaminan PM Hayotama buat tunjangan bayi lahir ini bahkan lebih besar dari iming-iming bisnis MLM yang dengan jurus sejuta cipua-nya sering menjanjikan penghasilan pasif 10 juta per-bulan. Dengan janji yang jarang ada benarnya itu, orang-orang sering disarankan untuk segera pensiun dini.

 Tapi di Jepang masalah ini bukan sekedar janji-janji. Teman saya mas Tomy Satria Wahono, doktor cerdas lulusan Tokyo ini memang pernah cerita bahwa dirinya amat menikmati punya anak di Jepang.

"Lha wong ongkos melahirkan saja diganti pemerintah kok ustadz, cukup kita bawa bon pembayaran ke City Hall, terus kita bisa bawa pulang uang", ujarnya.

Besarnya tidak tanggung-tanggung, sampai 300.000 Yen. Tunjangan pemerintah buat bayi yang lahir tidak berhenti sampai disitu, tapi masih ada tunjangan uang susu. "Dari `uang susu` saja kita udah bisa hidup enak disana", tambah Romy yang kini menjad PNS dani peneliti di LIPI.

"Uang susu itu sampai 5.000-an Yen lho", tambahnya lagi.

Tidak hanya sampai disitu, betapa pemerintah Jepang sangat menghargai kelahiran bayi, para orang tua di Jepang masih dibanjiri dengan berbagai macam potongan. Sejak lahir sampai tepat umur satu tahun, setiap anak berhak mendapatkan potongan biaya untuk pemeriksaan kesehatan, termasuk vaksin.

Jadi mau dia sakit apapun, walaupun sampai harus dioperasi segala, hanya diharuskan membayar sebesar 2% dari total biaya. Saat berkesempatan memenuhi undangan ceramah ke Jepang Mei 2007, yang saya saksikan memang teman-teman mahasiswa Indonesia lumayan ikut kecipratan rejeki atas kebijakan pemerintah Jepang ini.

Sebab tunjangan-tunjangan di atas tidak hanya berlaku buat WNJ asli (hehehe singkatan dari Warga Negara Jepang). tetapi juga berlaku buat para mahasiswa Indonesia yang sudah berkeluarga. Tinggal mengurus surat-suratnya saja, seperti Hokken (semacam asuransi), juga Boshi-techo (Buku Petunjuk Kesehatan Ibu dan Anak) dan sejenisnya.

Menarik untuk dicermati, tiap bayi yang lahir bukan hanya mendapat akte kelahiran, tetapi juga dilengkapi semcam KTP. Pemerintah Jepang, dalam hal ini shiyakusho, memang langsung mengeluarkan KTP buat si bayi. KTP ini berlaku sejak lahir sampai umur 16 tahun. Seru kan, kecil-kecil udah punya KTP.

 Tentunya nomor KTP-nya ini sangat berguna buat mengetahui jumlah penduduk Jepang. Bandingkan dengan per-KTP-an negeri kita yang sangat semrawut. Boro-boro mikirin KTP buat anak-anak, lha wong KTP orang dewasa saja pun tetap masih bisa nembak. Sampai-sampai teroris pun bisa punya KTP, malah bisa buat chek-in di hotel JW Marroitt.

Dengan semua fasilitas dan pemanjaan pemerintah Jepang kepada penduduknya, rasanya seperti hidup di negeri Islam yang sering kita cita-citakan, cuma mereknya saja bukan daulah Islamiyah, juga bukan Khilafah Islamiyah.

 Tapi beberapa cirinya sudah kelihatan di Jepang. Sayangnya saat ini orang Jepang masih atheis, alias tdak beragama. Shinto yang pernah kita hafalkan di bangku SD sebagai agama orang Jepang, ternyata cuma agama nenek moyang yang nyaris sudah punah. Tapi meski tidak beragama, orang Jepang umumya sangat menghormati agama lain. Terutama agama Islam.

Sampai-sampai di Tokyo banyak orang Jepang yang belajar bahasa Arab di LIPIA-nya Jepang. Terletak di Hiro-o, Kedutaan Besar Kerajaan Saudi Arabia membuka kurus bahasa Arab yang diikuti orang Jepang yang non-muslim itu. "Tidak sedikit dari mereka yang akhirnya tertarik masuk Islam", kata Yadi, staf yang juga seorang WNI saat saya mengunjungi lembaga itu.

Sepertinya ke depan, ada secercah harapan buat Jepang untuk menjadi wilayah dakwah Islam yang subur. Bukankah dahulu bangsa Mongol yang terkenal sadis itu akhirnya masuk Islam juga, setelah sebelumnya meratakan Baghdad dengan tanah dan membinasakan sisa-sisa kejayaan Dinasti Abasiyah.

Man yahdihillahu fala mudhilla lahu
(siapa yang diberi hidayah Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya).

Semua Tulisan Penulis :
Mengunjungi Hiroshima (Dakwah ke Jepang bag. 5)
5 May 2008, 00:00 | 32.980 hits
Jadwal Ceramah (Dakwah ke Jepang bag. 4)
4 May 2008, 00:00 | 24.878 hits
Masjid Kobe (Dakwah ke Jepang bag. 3)
3 May 2008, 00:00 | 15.659 hits
Islam dan Jepang ((Dakwah ke Jepang bag. 2)
2 May 2008, 00:00 | 21.597 hits
Dakwah ke Jepang (bag. 1)
1 May 2008, 00:00 | 13.557 hits
Haji Basir (bag. 2)
9 September 2007, 00:00 | 10.846 hits
Haji Basir
9 June 2007, 00:00 | 15.857 hits
Lahir di Mesir
8 June 2007, 00:00 | 17.928 hits