Haji Basir (bag. 2) | ahmadsarwat.com

Haji Basir (bag. 2)

Sun 9 September 2007 00:00 | 10846

Untungnya Haji Basir punya satu dari sekain banyak anak beliau yang bisa diharapkan untuk menwujudkan cita-cita mulianya. Anak itu dikirim ke negeri Pyramid, Mesir, untuk menuntut ilmu, setelah menyelesaikan pendidikan agama dan umum di Jakarta.

Maka di pundak puteranya itulah Haji Basir akhirnya berhasil mendapatkan apa yang dicita-citakannya, yaitu mendirikan madrasah yang mengajarkan ilmu agama buat masyarakat. KH. Machfud Basir, begitu nama putera beliau.

Enam belas tahun tinggal di Mesir, selain kuliah juga sempat bekerja menjadi lokal staf di KBRI di Garden City Cairo Egypt. Beliau menikah dengan salah seorang mahasiswi asal Jogja, Dra. H. Chodidjah Djumali, Lc, dan mendapatkan seorang putera yang lahir semasa di Cairo.

Tahun 1972, keduanya memutuskan untuk pulang ke Indonesia, salah satunya untuk mengamalkan ilmu agama yang telah keduanya tekuni di Mesir, dan juga untuk mewujudkan salah satu impian Haji Basir, yaitu mendirikan sebuah madrasah.

Sepulang ke Jakarta, KH. Machfudz Basir mendapat tawaran bekerja menjadi pegawai negeri di Kementrian Luar Negeri di Pejambon Jakarta Pusat. Sedangkan istri beliau, malah mendapat panggilan dinas tugas mengajar di IAIN Jogjakarta. Hal itu karena dahulu, ketika beliau mendapatkan kesempatan studi ke Al-Azhar, juga merupakan titipan tugas dari IAIN.

Sempat agak gamang untuk menerima panggilan tugas dan pisah kota dengan suami, akhirnya beliau memutuskan untuk menetap di Jakarta mendampingi suami. Tugas mengajar di AIIN Sunan Kalijaga Jogja itu ternyata bisa `diserahkan` kepada orang lain yang kemudian malah diangkat menjadi pegawai negeri.

Di tengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga dengan satu putera, Ibu Chodidjah Djumali kemudian mengajak anak-anak tetangga kanan kiri untuk belajar mengaji di kediamannya. Sehingga rumah itu menjadi ramai dengan kegiatan mengaji dan belajar. Puluhan anak di kampung Pedurenan itu kemudian setiap hari menyesaki rumah beliau, terhitung sejak masuk waktu Ashar, Maghrib dan Isya, rumah itu berubah menjadi tempat pendidikan agama.

Tiga tahun kemudian, rasanya rumah itu sudah tidak mampu lagi menampung tempat buat mereka yang datang belajar mengaji. Sebab yang datang bukan cuma anak-anak, tetapi bapak-bapak, ibu-ibu bahkan kakek dan nenek pun ikutan ingin belajar agama.

Maka setelah berunding dengan beberapa pihak, keluarga, murid dan juga tokoh masyarakat, di tahun 1976, mulailah digali pondasi untuk membangun dua lokal kelas. Semua tanpa perencanaan anggaran, cuma bermodal semangat untuk mengajar agama. Niat itu disampaikan setiap kali ada pengajian.

Tiba-tiba suatu hari, datang beberapa mobil bak terbuka membawa bahan bangunan bekas bongkaran. Ada puing, ada batu bata bekas, kayu kaso, juga bekas, dan genting yang juga bekas. Rupanya ada famili yang tertarik mau bantu, dan beliau hanya bisa bantu berupa bahan-bahan bekas gusuran rumah atau mushalla di tempat lain.

Daripada bahan-bahan itu dibuang, mending disedekahkan, begitu pikir si dermawan yang tidak mau disebut namanya. Maka dua lokal kelas itu pun berdiri pada akhirnya, dengan mengumpulkan bantuan dari banyak pihak. Kebetulan, pemborong bangunannya, pak Amat, juga seorang yang shalih, yang kalau membagun madrasah, tidak pernah pakai hitung-hitungan.

Pokoknya, semua dagangan yang ada di material miliknya, langsung didatangkan. Urusan bayar, nanti belakangan. Yang penting bangunannya berdiri dulu, begitu tegasnya suatu hari.

Maka 1 Mei 1976, diresmikanlah bangunan itu dan juga namanya, yaitu Madrasah Daarul-Uluum. Artinya, rumah ilmu. Namanya sesuai dengan misinya, yaitu rumah tempat diajarkannya ilmu, khususnya ilmu agama.

Cita-cita terpendam dalam lubuk hati Haji Basir pun akhirnya terwujud, meski agak sedikit tertunda dan orangnya sudah mendahuli masuk ke alam kubur.

Tetapi cita-cita itu terus menyala dan selalu ada orang-orang yang ingin menegakkan cita-cita itu, di atas lahan yang sudah beliau siapkan sejak masih hidupnya. Semoga Allah SWT memberikan ganjaran berlipat atas wakaf yang pahalanya tidak pernah berhenti mengalir.

Semoga Allah SWT mengampuni semua dosa dan kesalahan beliau dan menerangi alam kuburnya, dan menjadikannya taman dari taman-taman surga.

Amien.

Semua Tulisan Penulis :
Haji Basir
9 June 2007, 00:00 | 15.857 hits
Lahir di Mesir
8 June 2007, 00:00 | 17.928 hits