Kerusuhan : Yuk Evakuasi Al-Azhar ke Indonesia | ahmadsarwat.com

Kerusuhan : Yuk Evakuasi Al-Azhar ke Indonesia

Thu 3 February 2011 00:00 | 19636

Kalau tidak ada kepastian kapan situasi akan membaik dan kapan perkuliahan bisa dimulai lagi, lantas bagaimana dengan nasib 5000-an mahasiswa kita di Al-Azhar Mesir? Apakah mereka harus DO begitu saja dan putus kuliah? Memang SBY menjanjikan bahwa bila nanti situasi sudah aman, para mahasiswa kita akan difasilitasi negara untuk bisa meneruskan kuliah kembali. Tetapi siapakah yang bisa memegang janji seorang SBY? Maka tidak salah kalau saat ini kita sudah harus berpikir lebih jauh, yaitu mengapa kita tidak mendirikan saja Al-Azhar di Indonesia, sebagaimana Universitas Al-Imam Muhammad Ibnu Suus Al-Islamiyah yang buka cabang di Jakarta, menjadi LIPIA. Sehingga akan memudahkan proses belajar mengajar. Para mahasiswa kita tidak perlu terbang jauh-jauh sampai ke Mesir, cukup para dosen dari Al-Azhar saja yang kita `transfer` ke negeri kita. Kalau pelatih dan pemain bola saja bisa kita beli dari luar negeri, masak sih kita tidak bisa membiayai para ulama, profesor atau doktor dalam ilmu-ilmu keislaman? Mesir, Syria, Jordan dan lainnya adalah gudangnya para ulama paten. Kalau keadaan sosial politik disana kurang kondusif, mengapa kita tidak membuka pintu buat mereka untuk mengajar dan mengabdi di negeri kita saja? Contoh sederhana yang sudah berjalan adalah Dr. Yusuf Al-Qaradawi. Karena satu dan lain hal, beliau yang asli orang Mesir itu malah `dikontrak` oleh penguasa Qatar, Emir Hammad Ats-Tsani untuk tinggal di negeri minyak itu, bahkan diangkat jadi mufti negara. Al-Qaradawi pun difasilitasi oleh Emir untuk membangun berbagai projek dakwah, seperti membangun situs islamonline.net, demikian juga berdakwah di TV Al-Jazeera yang merupakan milik si Emir. Beliau juga menjadi imam di Masjid Umar bin Al-Khattab, di Doha Qatar, dimana setiap kali beliau khutbah Jumat, selalu direlay langsung oleh televisi setempat. Belajar Dari LIPIA Contoh projek yang sudah bisa dibanggakan adalah apa yang dilakukan oleh Pemerintah Saudi Arabia dengan membangun cabang Universitas Islam Al-Imam Muhammad Ibnu Suud di Jakarta, sejak tahun 1980. Pengalaman saya kuliah di LIPIA, prinsipnya tidak perlu jauh-jauh terbang ke Riyadh Saudi Arabia. Sebaliknya, justru universitas negeri milik Kerajaan Saudi Arabia itu sendiri yang membangun far`u (cabang) di Jakarta. Tetapi semua dosen, materi kuliah, silabus, buku perkuliahan, jadwal kuliah, sistem perkuliahan, diimppor langsung dari Saudi. Bahkan kalau di Saudi lagi libur musik panas, kita pun di Jakarta ikut-ikutan libur musik panas, padahal iklim kita tidak mengenal musim panas, yang ada cuma musim duren. Masuk ke halaman LIPIA serasa sudah masuk ke negeri Saudi. Sebab hampir semua dosen adalah orang-orang Arab, seperti dari Saudi, Mesir, Sudan, Palestina, Iraq dan lainnya. Tentunya bahasa Arab wajib digunakan. Dan jangan anggap enteng kurikulum LIPIA, standarnya sama dengan kuliah di Saudi langsung. Tiap semester tetap wajib menghafal 1 juz Al-Quran, sehingga total kalau lulus nanti setidaknya sudah hafal 8 juz. Dalam masalah buku kuliah, LIPIA malah lebih tinggi dari Al-Azhar. Kami kuliah di LIPIA belajar dengan menggunakan buku turats yang asli, sedangkan umumnya dosen Al-Azhar menggunakan buku tulisan mereka sendiri. Dengan demikian, mahasiswa jadi akrab dengan kitab semacam Bidayatul Mujtahid untuk Ilmu Fiqih, Raudhatun-Nadhir untuk Ushul Fiqih, Fathul Qadir untuk tafsir, Subulus-Salam untuk Hadits Ahkam. Di samping itu tiap 2 semester para mahasiswa diwajibkan membuat karya ilmiyah, yang kalau disetarakan di negeri kita, rasanya seperti bikin Tesis S-2. Sebab semua rujukannya harus kitab turats yang asli. Al-Azhar di Indonesia Mengingat peminat yang ingin kuliah di Al-Azhar sangat besar, bahkan tiap tahun selalu membeludak, rasanya sudah wajib hukumnya untuk membangun kampus resmi Al-Azhar di Indonesia. Semua dosen dan buku kita datangkan langsung dari Mesir, tetapi dengan sedikit perbaikan sistem perkuliahan. Misalnya, kalau di Al-Azhar Mesir itu perkuliahan digelar model tabligh akbar, satu dosen ceramah dihadiri oleh orang sekampung, maka disini jumlah mahasiswanya dibatasi. Biar bisa terjadi dialog atau tanya jawab antara dosen dan mahasiswa. Kalau di Mesir mau kuliah atau tidak kuliah terserah yang penting ikut ujian, maka disini harus pakai absen yang ketat, dengan sanksi tidak boleh ikut ujian kalau kurang dari 80 persen kehadiran. Kalau di Mesir para dosen mengajar pakai bahasa `amiyah Mesir yang sebenarnya taktik penjajah untuk merusak dunia Islam, maka disini wajib pakai bahasa Arab yang fushah, baik dosen maupun mahasiswa. Kalau di Mesir sistem administrasi kampusnya serba kacau bin balau, maka disini harus serba standar profesional dan online 24 jam. Masalah OUTPUT Salah satu kendala kuliah di Al-Azhar selama ini adalah masalah output. Maksudnya, lulusan dari Al-Azhar yang katakanlah sudah sangat tinggi ilmunya itu, kalau mereka pulang ke Indonesia, rasanya masih belum tersalurkan dengan benar, baik secara profesi dan maupun secara standar kehidupan. Sehingga banyak dari alumni itu yang ekonominya pun masih berantakan, bahkan tidak sedikit potensi yang sudah sangat baik itu akhirnya jadi sia-sia. Pulang dari Mesir bukan jadi ulama tetapi malah sibuk mencari sesuap nasi, demi menyambung hidup. Ada yang jadi calo atau agen travel haji, ada yang bisnis jadi tukang jahit konveksi, ada yang bisnis MLM, jualan minyak wangi, habbah sauda, buka praktek ruqyah, dan jenis pekerjaan yang nyaris tidak ada kaitannya dengan ilmu yang selama ini dipelajari jauh-jauh ke Mesir. Padahal ilmu mereka itu tinggi dan langka, 230 juta bangsa Indonesia butuh ilmu mereka. Sebab selama ini yang mengajar ilmu agama itu di negeri kita (mohon maaf) kebanyakannya mereka yang kurang punya standar kualitas keilmuwan. Pengajian dan majelis ilmu kita lebih banyak bernarasumber dari mereka yang kurang pas latar belakangnya. Ada preman insaf tiba-tiba jadi ustadz. Ada yang kuliah politeknik teruss jadi ustadz. Kadang-kadang badut dan pelawak pun jadi ustadz. Seharusnya, para alumni Al-Azhar itulah yang jadi ustadz, karena memang mereka punya standar keilmuwan. Saya pernah ngobrol dengan salah seorang mahasiswa Malaysia di Cairo. Rupanya dia diikutkan dalam ikatan dinas dari negerinya. Dia dikuliahkan di Cairo, dikasih beasiswa oleh pemerintahnya, selain dari Al-Azhar sendiri. Dia `dipaksa` kuliah dengan tekun dan harus mencapai target cepat lulus. Begitu lulus dan pulang ke Malaysia, sudah ditempatkan posisinya macam pegawai negeri, dijamin gaji dan penghidupannya. Belajar Dari STAN Di Indonesia, kampus yang seperti itu diantaranya adalah tempat saya mengajar, STAN. Semua lulusan dipastikan jadi pegawai negeri (PNS) di lingkungan Kementerian Keuangan. Jadi tidak sia-sia mereka dikuliahkan gratis atas biaya negara. Karena hasilnya jelas. Dan kalau dibandingkan, jumlah mahasiswa kita di Mesir itu kira-kira sebanding dengan kita punya STAN. Dengan asumsi STAN menerima mahasiswa baru tiap tahun kurang lebih 1500-an orang, maka jumlah total yang akfit kuliah kira-kira 4.500-an orang. Sebab kuliah di STAN itu 3 tahun (program D-3). Jadi kalau kita mau bangun kampus Al-Azhar di Indonesia, kira-kira mirip kita membangun kampus STAN. 1. Kepastian Pekerjaan Yang utama sekali adalah bahwa kampus ini bukan asal menyelenggarakan perkuliahan, tetapi sudah jelas penempatan para alumninya sebagai petugas negara yang dididik secara khusus dan berkualitas, dan tentu saja punya jaminan gaji seperit PNS. Kalau kementerian keuangan bisa bikin STAN dan alumninya yang berkualias itu otomatis akan mengisi lowongan PNS di kementerian itu, maka seharusnya Kementerian Agama pun harus demikian. Sehingga ke depan, tidak ada orang yang bisa tiba-tiba jadi pegawai DEPAG hanya karena lulus tes PNS, atau punya koneksi, seperti sekarang ini. Sebab justru karena hasil sogok dan koneksi inilah, agaknya, yang bikin kementerian Agama menjadi tidak ubahnya -meminjam istilah Gusdur- seperti sebuah `pasar`. Isinya orang-orang yang sedang berdagang. Ke depan, seorang calon PNS di DEPAG harus lulusan dari sekolah kedinasan model STAN, dimana sejak pemilihan mahasiswanya sudah diseleksi ketat dari sisi kualitasnya. 2. Gratis Kampus ini harus gratis dan tidak berbayar. Sehingga jangan sampai ada calon mahasiswa yang sangat pandai tapi tidak mampu kuliah hanya lantaran tidak punya biaya. Dan jangan sampai ada mahasiswa bodoh, kurang motivasi, hanya mengandalkan kekayaan orang tua lantas berkuliah disini. Konsep seperti itu hanya akan membuat kualitas lulusan menjadi sangat rendah. Sebab anak pintar kalau dicampur dengan anak bodoh, hasilnya bukan yang bodoh jadi pintar, tetapi yang pintar jadi bodoh. Terus terang seharusnya tidak ada tempat untuk anak bodoh di kampus ini, karena cuma akan bikin masalah saja, dan menularkan kebodohannya itu kepada yang lain, sehingga terkontaminasi. Maka ide subsidi silang ala UI dan universitas negeri lainnya itu -menurut saya- agak biadab (upss!). 3. Seleksi Sepanjang Masa Kuliah Tentu saja tidak semua orang boleh kuliah di Al-Azhar cabang Indonesia ini. Harus ada sistem tes yang profesional anti katebelece, sogok, pertemanan atau kongkalikong. Dan aturannya harus jelas, lolos masuk seleksi bukan berarti aman, sebab tiap saat selalu ada ancaman untuk DO dan dikeluarkan. Ini penting agar kuliah tidak dianggap sebagai piknik. Anak pejabat tinggi di STAN belum tentu lolos seleksi penerimaan mahsiswa baru, kalau memang nilai tesnya tidak memenuhi. Kalau pun misalnya kebetulan bisa lolos masuk juga karena faktor nasib, bukan berarti dia aman. Sebab begitu ujian semester pertama, sangat mungkin dia akan DO dan angkat koper. Kok bisa? Karena peraturannya di STAN bahwa mahasiswa yang IPK-nya kurang dari 2,75 langsung dinyatakan gugur. Mahasiswa juga harus pulang kampung kalau ada satu saja dari mata kuliah pokok dapat nilai D. Dan satu lagi yang bisa membuat mahasiswa sukses dipecat dari STAN, yaitu kalau ketika ujian ketahuan nyontek. Wah pokoknya rugi dunia akhirat. Saat itu juga langsung dikirim pulang ke orang tuanya dan tidak boleh memperlihatkan wajah ke STAN. Dipecat dengan tidak hormat. Hmm, kalau dipikir-pikir STAN itu bukan sekolah agama, tetapi urusan kejujuran kayaknya perlu dicontoh. Nasib yang sama juga dialami mahasiswa LIPIA atau Al-Azhar Mesir, jangan coba-coba nyontek dan ketahuan, runyam lah pokoknya!! Saya pernah melihat ada anak I`dad yang bawa contekan ke ruang ujian, kertas ujian dan jawabannya langsung dirobek-robek di tempat di muka umum, dan saat itu juga langsung dikeluarkan selama-lamanya dari LIPIA. Dengan demikian, kampus itu kita tekadkan adalah kampus yang suci, bersih dan steril 100% dari orang bodoh atau orang pintar yang berlaku bodoh dan kurang minat. Buat orang bodoh, mungkin ada tempatnya sendiri, yang khusus menampung semua mereka. Mungkin namanya Universitas Kurang Pandai Indonesia, disingkat UKPI atau apa lah terserah. Tidak pakai absen, tidak pakai kuliah, semua ujian open book, jawabannya dikirim pake email, kuliah cukup setahun sekali. Dari mulai daftar sampai wisuda bisa diproses dalam seminggui asal bayar puluhan juta. Atau mungkin namanya yang lebih pas adalah Universias Abal-Abal Indonesia, disingkat UAAI. 4. Berbahasa Arab Native Perkuliahan ini wajib menggunakan bahasa Arab sebagai pengantar. Untuk itu semua calon mahasiswa harus lulus tes bahasa Arab baik tertulis maupun lisan. Test tertulis semua dalam bahasa Arab, demikian juga tes lisan. Yang mengetes juga orang arab. Hanya mereka yang sudah fasih berbahasa Arab saja yang diterima. Kalau belum bisa, harus kuliah 2 tahun dulu, khusus persiapan bahasa. Kalau sudah kuliah bahasa Arab 2 tahun, sebagai bukti sudah bisa bahasa Arab, disuruh ngelawak pakai bahasa Arab. Kalau penontonnnya yang orang Arab bisa tertawa terpingkal-pingkal, nah itu artinya dia sudah bisa ngomong arab. Tes kedua adalah menghiba-hiba pakai bahasa Arab. Kalau pengujinya bisa ikut menitikkan air mata, nah itu tandanya bahasa Arabnya sudah jago. 5. Kurikulum Kurikulumnya dirancang serius dan paten, sehingga keberadaan satu mata kuliah bukan sekedar untuk menggugurkan kewajiban. Tetapi diajarkan oleh Doktor yang memang spesialis di bidangnya, dengan menggunakan kitab aslinya, serta dengan perbandingan mazhab secara adil. Di LIPIA, mata kuliah fiqih itu diajarkan tiap hari dalam seminggu. Dan selama 8 semester, tiap hari ada mata kuliah fiqih. Sehingga 2 jilid tebal kitab Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd itu selesai dibaca selama 4 tahun. Kapan Direalisasikan? Nah ini pertanyaan yang mematikan, semua yang sudah ditulis di atas hanya tinggal mimpi, kalau tidak ada realisasinya. Rasanya memang tidak mudah untuk merealisasikannya. Tetapi dengan kesungguhan dan kesabaran, apalagi kalau diangkat bersama-sama, rasanya tidak ada yang susah. Dananya dari mana? Hmm, ini pertanyaan klasik, tetapi tetap penting. Ya, untuk membangun sistem pendidikan seperti itu jelas butuh dana. Terus duitnya siapa yang bisa dipakai? Sebenarnya kalau mau sedikit lebih cermat dalam berpikir, umat Islam ini tidak pernah kekurangan dana untuk proyek seperti ini. Katakanlah misalnya dana abadi umat yang konon dari hasil menyunat ONH jamaah haji. Saat ini, teman saya memberi bocoran, setidaknya ada 20 Trilyun dana abadi umat, yang tidak jelas jeluntrungannya, habis diprotoli oleh tikus-tikus di Kementrian Agama. Tidak jelas benar apa tidaknya, yang pasti mantan Menteri Agama pernah mendekam di balik jeruji lantaran urusan uang-uang tidak jelas ini. Al-Azhar Mesir sendiri bukan lembaga milik pemerintah. Al-Azhar hidup dari sekian banyak harta wakaf produktif hasil dari amal jariyah bangsa Mesir. Konon, seorang alumni pernah cerita, bahwa jumlah aset wakaf Al-Azhar itu lebih besar dari APBN Mesir. Kalau kita mau meniru Al-Azhar Mesir bisa saja, yang penting semua harus transparan dan bisa diaudit.

Semua Tulisan Penulis :
Buku Baru : Islam Liberal 101
27 January 2011, 00:00 | 17.013 hits
Istri Bukan Pembantu
20 January 2011, 00:00 | 14.954 hits
Pejabat vs Pilot Pesawat
17 January 2011, 00:00 | 14.912 hits
Film Ar-Risalah : Satu Jembatan Barat Islam
10 January 2011, 00:00 | 15.414 hits
Nonton Bola di GBK, Tidak Shalat Maghrib?
23 December 2010, 00:00 | 18.854 hits
Perayaan Tahun Baru Islam, Nasional dan Natal
8 December 2010, 00:00 | 17.523 hits
Hijrah Nabi SAW dan Negara Islam Madinah
30 November 2010, 00:00 | 19.255 hits
Qurban : Antara Ritual dengan Sosial
18 November 2010, 00:00 | 12.391 hits
Rumah Hunian dan Pendidikan Masa Depan
18 November 2010, 00:00 | 13.526 hits
Puasa Arafah Ikut Saudi?
15 November 2010, 00:00 | 20.934 hits
Sultan Maridjan
29 October 2010, 00:00 | 17.862 hits
Kegagalan Sekolah Dalam Mendidik (bag. 2)
20 October 2010, 00:00 | 15.953 hits
Kegagalan Sekolah Dalam Mendidik
19 October 2010, 00:00 | 16.912 hits
Sirik dan Pitnah
14 October 2010, 00:00 | 17.512 hits
Penjual Stiker
21 September 2010, 00:00 | 16.926 hits
52 Trilyun Biaya Untuk Lebaran : Syar`ikah?
20 September 2010, 00:00 | 19.038 hits
Ketika WTC Runtuh (9 Tahun Kemudian)
11 September 2010, 00:00 | 17.750 hits
Situs Hadits Onlinet : Teks Arab Plus Terjemah dan Search Engine
11 September 2010, 00:00 | 22.904 hits
Perbedaan Zakat Infaq dan Sedekah
8 September 2010, 00:00 | 21.562 hits
Sudah Shalat Ied Hari Jumat, Apa Masih Wajib Shalat Jumat?
7 September 2010, 00:00 | 21.639 hits
Muhammad Al-Fatih Sang Penakluk Konstantinopel 1453
29 August 2010, 00:00 | 27.449 hits
Ramadhan dan TV
15 August 2010, 00:00 | 21.291 hits
Amerika : Negeri Muslim Yang Dimurtadkan (bag. 3)
7 August 2010, 00:00 | 24.138 hits
Amerika : Negeri Muslim Yang Dimurtadkan (bag. 2)
6 August 2010, 00:00 | 20.738 hits
Saatnya Mengubah Sistem Kepemimpinan
5 July 2010, 00:00 | 17.307 hits
Kunjungan ke Universitas Islam Antar Bangsa (IIUM)
22 June 2010, 00:00 | 25.467 hits
Saung Istiqamah KBRI Singapore : Fiqih Minoritas
20 June 2010, 00:00 | 20.129 hits
Mau Dirikan Khilafah? Mulailah Dari Sekarang
8 June 2010, 00:00 | 18.506 hits
Kuliah di LIPIA
6 June 2010, 00:00 | 33.120 hits
Israel vs Umat Islam
5 June 2010, 00:00 | 19.478 hits
Melawan Amerika Ala Jepang
13 March 2010, 00:00 | 18.574 hits
Ensiklopedi Fiqih Online Berbahasa Indonesia
9 March 2010, 00:00 | 25.063 hits
45 Jilid Ensiklopedi Fiqih Terlengkap
4 March 2010, 00:00 | 28.963 hits
Printing On Demand (Mencetak Buku Sebiji)
28 February 2010, 00:00 | 29.863 hits
Hukum Lelang
20 February 2010, 00:00 | 19.626 hits
Nikah Siri : Solusi Atau Intimidasi?
18 February 2010, 00:00 | 26.160 hits
Wakaf Buku Fiqih Mawaris, Mau?
13 February 2010, 00:00 | 21.543 hits
Dengar Ceramah HAMKA di Youtube
12 February 2010, 00:00 | 22.097 hits
Kitab Online Hasil Scan = Bajakan?
10 February 2010, 00:00 | 28.240 hits
Pelatihan Dasar Faraidh (PDF) di DU CENTER
22 January 2010, 00:00 | 18.876 hits
Tabel Waris,  Materi dan Buku For Free
16 January 2010, 00:00 | 24.895 hits
Iblis Liberal
26 December 2009, 00:00 | 20.796 hits
Berpindah-Pindah Madzhab
7 December 2009, 00:00 | 16.840 hits
Wakaf Ilmu :Metode Mendatangkan Pahala Abadi
12 October 2009, 00:00 | 20.425 hits
Jam Gempa & Klenik Nomor Ayat Al-Quran
8 October 2009, 00:00 | 36.336 hits
Alahumma Laka Shumtu : Hadits Dhaif?
10 September 2009, 00:00 | 25.840 hits
Ramadhan dan Polisi
7 September 2009, 12:23 | 18.671 hits
Dilemma PNS Jujur
3 September 2009, 00:00 | 20.215 hits
Ramadhan : Bulan Petasan?
26 August 2009, 00:00 | 32.685 hits
Ramadhan dan Produktifitas Kerja
25 July 2009, 00:00 | 19.445 hits
Bercermin Dengan Yahudi (2)
16 June 2009, 00:00 | 17.351 hits
Bercermin Dengan Yahudi (1)
15 June 2009, 00:00 | 19.184 hits
Masuknya Islam ke Indonesia
13 June 2009, 00:00 | 31.889 hits
Buya Hamka dan KH Abdullah Syafi`i
7 June 2009, 00:00 | 25.630 hits
Daftar Tempat Ceramah
31 January 2009, 00:00 | 27.239 hits
Hukum Musik Dalam Pandangan Syariah
31 January 2009, 00:00 | 22.183 hits
Ke Al-Jazeera Channel Doha Qatar
21 September 2008, 00:00 | 25.285 hits
Qatar Selayang Pandang
20 September 2008, 00:00 | 30.373 hits
Ceramah ke Qatar
19 September 2008, 00:00 | 19.162 hits
Tunjangan Bayi Jepang 30 Juta Per Tahun Per-anak
6 May 2008, 00:00 | 15.327 hits
Mengunjungi Hiroshima (Dakwah ke Jepang bag. 5)
5 May 2008, 00:00 | 32.980 hits
Jadwal Ceramah (Dakwah ke Jepang bag. 4)
4 May 2008, 00:00 | 24.878 hits
Masjid Kobe (Dakwah ke Jepang bag. 3)
3 May 2008, 00:00 | 15.659 hits
Islam dan Jepang ((Dakwah ke Jepang bag. 2)
2 May 2008, 00:00 | 21.597 hits
Dakwah ke Jepang (bag. 1)
1 May 2008, 00:00 | 13.557 hits
Haji Basir (bag. 2)
9 September 2007, 00:00 | 10.846 hits
Haji Basir
9 June 2007, 00:00 | 15.857 hits
Lahir di Mesir
8 June 2007, 00:00 | 17.928 hits