Pejabat vs Pilot Pesawat | ahmadsarwat.com

Pejabat vs Pilot Pesawat

Mon 17 January 2011 00:00 | 14912

Tiap kali naik pesawat terbang saya selalu kagum melihat manajemennya. Dan suka membandingkan bagaimana sebuah penerbangan diurus oleh orang profesional, dengan bagaimana sebuah negara (baca : Indonesia) diurus oleh pemerintahan yang tidak becus.

Dan keduanya memang jelas jauh berbeda. Sebagai penumpang kita tidak pernah melakukan pilkada atau pemilu untuk menetapkan siapa yang jadi pilot kita, bahkan lihat wajahnya pun belum pernah. Tetapi sudah bisa dipastikan, pilot itu adalah orang yang ahli mengerjakan tugasnya, mengantarkan para penumpang dengan selamat tiba di tujuan.

Kita juga tidak pernah melihat segerombolan pilot melakukan kampanye sambil menggelar dangdut di lapangan terbang, dengan niat agar para penumpang memilih diri mereka, dengan alasan biar demokratis. Kita juga tidak pernah menyaksikan bandara dipenuhi spanduk dan poster bergambar wajah calon para pilot, seperti umumnya kalau kita mau menetapkan siapa yang jadi pejabat di negara ini.

Pernahkah Anda dapat pembagian kaos, mug, kalender, dan berbagai asesoris bergambar calon pilot pesawat yang mau anda tumpangi? Pasti belum pernah, kan? Ya, dan memang tidak akan pernah ada kejadian seperti itu.

Dan kita tidak pernah tahu ada acara debat para calon pilot yang isinya cuma saling menjatuhkan dan saling mencela antara satu calon pilot dengan pilot lainnya, tentang mau bagaimana penerbangan yang akan ditempuh.

Kenapa semua itu tidak ada?

Jawabnya karena seorang pilot yang handal memang tidak akan pernah lahir dari hasil pemilihan, baik pemilu atau pilkada. Pilot yang dibutuhkan dalam sebuah penerbangan hanya bisa didapat lewat pendidikan berkualitas dan tentunya amat berat dan waktunya lama. Hanya siswa yang dinyatakan lulus saja yang boleh akhirnya jadi pilot.

Herannya, kalau sekedar untuk membawa terbang 400-an penumpang saja dibutuhkan keahlian pilot sampai segitunya, kok untuk memimpin sebuah negara dengan penduduk 230 juta, tidak ada syarat pendidikan apa-apa?

Segitu gampangkah mengatur negara sehingga siapa saja dianggap berhak mencalonkan diri, demi sepenggal kata : hak asasi? Dan konyolnya, kok bisa sampai ada keyakinan bahwa seorang pemimpin akan didapat lewat pemiliu atau pilkada?

Saya teramat heran dan tidak habis pikir. Tanpa pemilu atau pilkada (atau mungkin lebih enak kita sebut pilpilot kepanjangan dari pemilihan pilot), kita mendapatkan para pilot yang handal dan bekerja optimal. Mereka ahli di bidang nyopir pesawat, tanpa harus berkampanye "serahkan pada ahlinya". (sory bang Foke).

Dan ternyata mereka memang ahlinya dalam arti sesungguhnya. Bahwa si pilot itu ahli nyopir pesawat, memang bukan sekedar janji kampanye, tetapi mereka sebelumnya wajib sekolah pilot, ikut berbagai macam ujian dan uji kelayakan. Kalau bisa lulus dari semua itu, barulah boleh jadi pilot. Itu pun harus punya SIM (surat izin menerbangkan pesawat?), dan kalau belum tentu tidak boleh terbang alias tidak boleh jadi pilot.

Coba bandingkan dengan pilot pemerintah baik pusat atau daerah. Dengan alasan demokrasi, `pilot` propinsi, kota madya atau kabupaten dan lainnya tidak diharuskan sekolah dulu. Dan memang tidak ada sekolahannya, setidaknya tidak disyaratkan untuk lulus dari sekolah tertentu untuk bisa nangkring di jabatan itu.

Yang penting, dia berhasil mendapatkan suara pemilih, bagaimana pun caranya, termasuk kasak kusuk busuk. Jadi jelas banget perbedaan hasil kepemimpinan pilot dengan pejabat. Yang satu pakai sekolah dan ujian dulu, lama dan berat, sedangkan jadi pejabat mudah sekali, asalkan ada partai atau setidaknya `koneksi` dan `loby` yang mendukung, atau punya bargaining (posisi tawar) yang kuat, dan tentu saja harus ada uang buat belanja (bukan lagi beli) suara, jalannya bisa mulus untuk jadi pejabat.

Sebelum terbang, kita memang bisa dengar si pilot ngomong ; This is your capten bla bla bla, dan itu adalah informasi tentang siapa nama di pilot, lalu kita mau kemana, berapa lama penerbangan, transit dimana, terbang dengan ketinggian berapa, cuaca nanti seperti apa, perkiraan mendarat jam berapa, perbedaan waktu antara tempat tujuan dan tempat asal dsb dsb.

Nah kalau `pilot` pemerintahan, tidak pernah memberi informasi apa-apa, kecuali janji-janji doang. Nanti kita akan ini, akan itu, akan anu, sampai bosan mendengarnya. Dan semua rakyat tahu semua cuma janji surga, tak satu pun yang kesampaian. Janji nanti kalau saya sudah jadi pejabat, kita akan habisi koruptor, eh ternyata malah dia yang jadi godfather koruptornya. Janji nanti kalau jadi pejabat, akan bebas banjir, eh justru semakin parah banjirnya. Kayaknya kita tidak pernah dijanjikan ini dan itu oleh pilot pesawat kita.

Belum pernah ada pilot bilang kepada penumpang : kita akan segera terbang tinggi ke langit keluar dari atmosfir dan insya Allah akan melewati bulan dan bintang! Belum pernah pilot bikin janji-janji macam itu.

Satu lagi yang menarik, saya belum pernah dengar ada pesawat kehilangan kabel, atau layar LCD, kursi atau perlengkapan lainnya, gara-gara ditilep oleh pilotnya.

Saya juga belum pernah dengar pramugari tidak rata membagikan makanan, hanya gara-gara jatah makanan buat penumpang dilahap habis oleh kru pesawat. Yang saya tahu, sebelum para pramugari pesawat makan, para penumpang dulu yang dilayani masalah makannya. Kita belum pernah dengar ada penumpang kelaparan gara-gara para pramugari makan duluan, kalau ada sisanya barulah dibagikan kepada penumpang yang masih saudara dengan para pramugari itu.

Saya juga belum pernah dengar ada lauk pauk dalam paket makanan buat penumpang yang ditilep oleh pramugari. Atau misalnya setelah makanan dibagikan, lalu kita disuruh menyerahkan salah satu makanan sebagai `upeti` atau uang pelicin buat para pramugasi. Asli belum pernah dengar.

Tapi kalau uang buat rakyat dimakan dan dibagi-bagi sesama pejabat dan PNS di suatu kementerian, rasanya sih sering dengar, terlalu sering bahkan. Lewat berbagai macam aksi tipu-tipu, seperti mark-up, uang dinas, uang perjalanan, bahkan gaji buat PNS yang sudah meninggal 10 tahun lalu masih saja bisa cair dan turun, entah bagaimana triknya, pokoknya duitnya cair.

Bayangkan, para pejabat itu `menelan` apa saja yang bisa ditelan, sampai jatah makanan buat rakyat miskin pun disikatnya juga. Dan sumbangan buat rakyat sudah biasa mengalami `sunatan masal`, dimana jatah dari atas dikucuri 10 juta, karena lewat berbagai jalur birokrasi, ternyata sampai tangan rakyat tinggal 10 ribu, itu berbulan-bulan tertahan. Tetapi kwitansinya tetap 10 juta.

Dan sintingnya, penilepan seperti itu terjadi juga dalam kasus bantuan sosial buat korban bencana alam, baik di Aceh mau pun daerah bencana lain. Sungguh benar-benar bencana nasional.

Rakyat dan Penumpang Pesawat


Saya sering membandingkan kita sebagai bagian dari rakyat negeri ini, seharusnya diperlakukan sebanding dengan penumpang pesawat. Sebagai penumpang, kita beli tiket pakai uang kita. Dan imbalannya, selain diantarkan sampai ke tujuan dengan selamat, sepanjang perjalanan kita dilayani mulai dari urusan yang masuk ke perut sampai yang keluar dari perut.

Para awak pesawat akan melayani kita dengan senyum ramah, dan kita tinggal bilang, minta jus, teh, kopi, cola dan apa saja, mereka dengan senang hati memberikan. Kecuali kalau pesanannya rada nyentrik, seperti pesan gado-gado kacang mede plus es teler, kemungkinan besar nggak ada.

Tapi coba lihat gaya para pejabat itu, meski mereka kita bayar, boro-boro melayani kita dengan senyum, yang ada urusan surat-surat kita pun (masih saja) dipersulit. Padahal mereka itu kan pelayan rakyat, bukan raja yang minta dilayani. Pejabat-pejabat itu harusnya jadi seperti pramugari pesawat, kalau kita butuh bikin dan perpanjang KTP, bikin KK, perpanjang STNK, pajak dan sebagainya, seharusnya kita duduk manis di rumah sambil nonton TV, dan mereka yang mondar mandir ke rumah kita untuk melayani.

Bukan sebaliknya, kita yang disuruh bolak-balik keluar masuk kantor mereka, yang juga belum tentu ada di tempat, karena ada rapat atau malah lagi liburan ke luar negeri. Buat saya, mereka itu bukan pelayan rakyat, tetapi sebaliknya malah jadi raja yang minta dilayani oleh rakyat.

Apalagi kalau pejabat pusat mau kujungan ke daerah, wah ibarat mau menyambut raja. Semua persiapan mulai dari hotel, tiket, jalan-jalan, oleh-oleh dan sebagainya, harus disiapkan oleh para bawahannya. Para pejabat itu hanya baru akan hormat kalau bertemu dengan rakyatnya yang kaya dan pengusaha, karena bisa dijadikan rekan atau pendukung saat kampanye atau pilkada.

Kalau rakyat miskin yang kurang makan dan serba kekurangan, biasanya hanya dibutuhkan saat janji kampanye. Setelah menang dan naik tahta, semua sudah lewat begitu saja. Bandingkan dengan para pramugari pesawat, mereka melayani para penumpang, tidak pernah pilih-pilih, apakah penumpangnya itu orang miskin atau orang kaya, bahkan meski pun penumpangnya berprofesi sebagai pembantu rumah tangga (TKW), tetap saja dilayani dengan rata dan adil.

Sebab buat pramugari, semua penumpang tanpa terkecuali, adalah raja yang harus dilayani. Kalau perlu, pramugari yang cantik-cantik itu kita suruh manjat kursi angkat koper ke atas kepala. Memang sudah tugasnya, mereka malah senang bisa membantu para penumpang.

Dan sebagai penumpang kita berhak mendapatkan pelayanan itu, karena kita kan sudah beli tiket. Dalam bernegara, uang beli tiket pesawat kira-kira sama pajak yang kita bayarkan. Sengaja atau tidak sengaja, rakyat adalah pembayar pajak. Sebab waktu kita makan di restoran pasti kena pajak, waktu kita bayar listrik juga kena pajak, waktu kita nonton TV lagi-lagi kena pajak, bahkan sekedar punya tanah dan rumah yang 100% kita beli dengan uang kita sendiri pun, kita terkena pajak juga.

Wajar dong kalau kita berhak mendapatkan pelayanan dari para pejabat dan pegawai negeri, karena gaji mereka itu kan kita yang bayar. Harusnya lurah, camat, bupati, gubernur, menteri dan presiden itu kita suruh angkat koper, kalau haus kita suruh mereka tuang minuman buat kita, kalau kita lapar kita panggil dan kita suruh menyiapkan makanan. Itu tugas mereka dan untuk itulah mereka dibayar. Bukannya malah jadi raja badut atau backing mafia, yang kerjanya memeras rakyat, menipu, menilep uang, mengkorup, menjarah kekayaan negeri.

Pejabat model begini sebenarnya hanya pelanjut generasi dari kompeni Belanda yang memang penjajah. Kulitnya saja yang beda, tapi kelakuannya sama saja, bahkan penjajah yang masih bangsa sendiri itu kadang lebih kejam dan lebih zalim kepada rakyat. Kadang saya bilang, sudah bagus ada anak yang bilang bahwa kalau dirinya sudah besar mau jadi pilot.

Ya, silahkan jadi pilot, asalkan jangan jadi pejabat, kerjanya jadi penguasa makan uang rakyat. Kalau tidak haram setidaknya syubhat, bagaimana mau selamat di akhirat?

Semua Tulisan Penulis :
Film Ar-Risalah : Satu Jembatan Barat Islam
10 January 2011, 00:00 | 15.414 hits
Nonton Bola di GBK, Tidak Shalat Maghrib?
23 December 2010, 00:00 | 18.854 hits
Perayaan Tahun Baru Islam, Nasional dan Natal
8 December 2010, 00:00 | 17.523 hits
Hijrah Nabi SAW dan Negara Islam Madinah
30 November 2010, 00:00 | 19.255 hits
Qurban : Antara Ritual dengan Sosial
18 November 2010, 00:00 | 12.391 hits
Rumah Hunian dan Pendidikan Masa Depan
18 November 2010, 00:00 | 13.526 hits
Puasa Arafah Ikut Saudi?
15 November 2010, 00:00 | 20.934 hits
Sultan Maridjan
29 October 2010, 00:00 | 17.862 hits
Kegagalan Sekolah Dalam Mendidik (bag. 2)
20 October 2010, 00:00 | 15.953 hits
Kegagalan Sekolah Dalam Mendidik
19 October 2010, 00:00 | 16.912 hits
Sirik dan Pitnah
14 October 2010, 00:00 | 17.512 hits
Penjual Stiker
21 September 2010, 00:00 | 16.926 hits
52 Trilyun Biaya Untuk Lebaran : Syar`ikah?
20 September 2010, 00:00 | 19.038 hits
Ketika WTC Runtuh (9 Tahun Kemudian)
11 September 2010, 00:00 | 17.750 hits
Situs Hadits Onlinet : Teks Arab Plus Terjemah dan Search Engine
11 September 2010, 00:00 | 22.904 hits
Perbedaan Zakat Infaq dan Sedekah
8 September 2010, 00:00 | 21.562 hits
Sudah Shalat Ied Hari Jumat, Apa Masih Wajib Shalat Jumat?
7 September 2010, 00:00 | 21.639 hits
Muhammad Al-Fatih Sang Penakluk Konstantinopel 1453
29 August 2010, 00:00 | 27.449 hits
Ramadhan dan TV
15 August 2010, 00:00 | 21.291 hits
Amerika : Negeri Muslim Yang Dimurtadkan (bag. 3)
7 August 2010, 00:00 | 24.138 hits
Amerika : Negeri Muslim Yang Dimurtadkan (bag. 2)
6 August 2010, 00:00 | 20.738 hits
Saatnya Mengubah Sistem Kepemimpinan
5 July 2010, 00:00 | 17.307 hits
Kunjungan ke Universitas Islam Antar Bangsa (IIUM)
22 June 2010, 00:00 | 25.467 hits
Saung Istiqamah KBRI Singapore : Fiqih Minoritas
20 June 2010, 00:00 | 20.129 hits
Mau Dirikan Khilafah? Mulailah Dari Sekarang
8 June 2010, 00:00 | 18.506 hits
Kuliah di LIPIA
6 June 2010, 00:00 | 33.120 hits
Israel vs Umat Islam
5 June 2010, 00:00 | 19.478 hits
Melawan Amerika Ala Jepang
13 March 2010, 00:00 | 18.574 hits
Ensiklopedi Fiqih Online Berbahasa Indonesia
9 March 2010, 00:00 | 25.063 hits
45 Jilid Ensiklopedi Fiqih Terlengkap
4 March 2010, 00:00 | 28.963 hits
Printing On Demand (Mencetak Buku Sebiji)
28 February 2010, 00:00 | 29.863 hits
Hukum Lelang
20 February 2010, 00:00 | 19.626 hits
Nikah Siri : Solusi Atau Intimidasi?
18 February 2010, 00:00 | 26.160 hits
Wakaf Buku Fiqih Mawaris, Mau?
13 February 2010, 00:00 | 21.543 hits
Dengar Ceramah HAMKA di Youtube
12 February 2010, 00:00 | 22.097 hits
Kitab Online Hasil Scan = Bajakan?
10 February 2010, 00:00 | 28.240 hits
Pelatihan Dasar Faraidh (PDF) di DU CENTER
22 January 2010, 00:00 | 18.876 hits
Tabel Waris,  Materi dan Buku For Free
16 January 2010, 00:00 | 24.895 hits
Iblis Liberal
26 December 2009, 00:00 | 20.796 hits
Berpindah-Pindah Madzhab
7 December 2009, 00:00 | 16.840 hits
Wakaf Ilmu :Metode Mendatangkan Pahala Abadi
12 October 2009, 00:00 | 20.425 hits
Jam Gempa & Klenik Nomor Ayat Al-Quran
8 October 2009, 00:00 | 36.336 hits
Alahumma Laka Shumtu : Hadits Dhaif?
10 September 2009, 00:00 | 25.840 hits
Ramadhan dan Polisi
7 September 2009, 12:23 | 18.671 hits
Dilemma PNS Jujur
3 September 2009, 00:00 | 20.215 hits
Ramadhan : Bulan Petasan?
26 August 2009, 00:00 | 32.685 hits
Ramadhan dan Produktifitas Kerja
25 July 2009, 00:00 | 19.445 hits
Bercermin Dengan Yahudi (2)
16 June 2009, 00:00 | 17.351 hits
Bercermin Dengan Yahudi (1)
15 June 2009, 00:00 | 19.184 hits
Masuknya Islam ke Indonesia
13 June 2009, 00:00 | 31.889 hits
Buya Hamka dan KH Abdullah Syafi`i
7 June 2009, 00:00 | 25.630 hits
Daftar Tempat Ceramah
31 January 2009, 00:00 | 27.239 hits
Hukum Musik Dalam Pandangan Syariah
31 January 2009, 00:00 | 22.183 hits
Ke Al-Jazeera Channel Doha Qatar
21 September 2008, 00:00 | 25.285 hits
Qatar Selayang Pandang
20 September 2008, 00:00 | 30.373 hits
Ceramah ke Qatar
19 September 2008, 00:00 | 19.162 hits
Tunjangan Bayi Jepang 30 Juta Per Tahun Per-anak
6 May 2008, 00:00 | 15.327 hits
Mengunjungi Hiroshima (Dakwah ke Jepang bag. 5)
5 May 2008, 00:00 | 32.980 hits
Jadwal Ceramah (Dakwah ke Jepang bag. 4)
4 May 2008, 00:00 | 24.878 hits
Masjid Kobe (Dakwah ke Jepang bag. 3)
3 May 2008, 00:00 | 15.659 hits
Islam dan Jepang ((Dakwah ke Jepang bag. 2)
2 May 2008, 00:00 | 21.597 hits
Dakwah ke Jepang (bag. 1)
1 May 2008, 00:00 | 13.557 hits
Haji Basir (bag. 2)
9 September 2007, 00:00 | 10.846 hits
Haji Basir
9 June 2007, 00:00 | 15.857 hits
Lahir di Mesir
8 June 2007, 00:00 | 17.928 hits