Penjual Stiker | ahmadsarwat.com

Penjual Stiker

Tue 21 September 2010 00:00 | 16926

Laki-laki itu mengelap peluhnya berkali-kali. Meski gerimis membasahi bajunya, namun keringatnya deras mengucur. Dilapnya ujung kemeja yang lusuh dan pudar warnanya itu ke wajahnya. Hmm, sekolah ini bagus juga, gumamnya dalam hati. Gedungnya 4 lantai, catnya masih baru. Suara riuh rendah murid-muridnya terdengar sampai keluar. Diran, nama laki-laki paruh baya itu. Stroke hebat yang menyerangnya membuatnya berjalan tertatih-tatih menggendong kardus bekas bungkus mie instan. Langkahnya gontai, bukan karena lelah, tapi karena akibat stroke itu. Seorang penjaga sekolah mendatanginya saat Diran mulai membuka karton dan terlihat menggelar koran. Sticker-sticker bergambar spiderman kegemaran anak-anak SD baru saja disusunnya, saat sang pak penjaga menegurnya sopan. "Maaf pak, sebaiknya bapak tidak berjualan disini. Ini halaman sekolah pak". "Maaf pak, bukan saya tidak tahu. Tapi izinkan saya sekali ini saja berjualan disini. Saya lagi sakit pak, bekas stroke", jawab Diran berdiplomasi. "Wah, bukan begitu pak. Nanti saya yang dimarahi Kepala Sekolah. Tolong Bapak pindah saja di luar halaman ini". "Tolong saya pak, saya orang tidak punya. Saya cuma mau cari rejeki halal. Izinkan saya, hari ini saja pak. Sebab kalau harus pindah, berjalan saja saya susah, pak". "Tapi...., ya sudah lah, terserah Bapak. Tapi janji ya hari ini saja. Besok Bapak tidak boleh dagang disini", penjaga sekolah itu akhirnya mengalah, setelah iba melihat wajah Diran yang memelas. "Terima kasih, pak". Diran mulai asyik lagi menata sticker-stickernya di atas koran yang sudah lusuh. Jumlahnya tidak banyak, ada gambar spiderman, ada kaligrafi, ada tulisan dilarang merokok. Pokoknya lengkap. Harapannya cuma satu, hari ini bisa makan nasi. Sejak subuh tadi perutnya keroncongan minta diisi. Sebenarnya bukan sejak subuh, tapi sejak kemarin malam. Nasi pemberian orang hajatan yang diterimanya kemarin, ternyata sudah basi. Akhirnya Diran hanya menelan ludah. Terbayang wajah istrinya di Wonogiri Solo. Terbayang pula wajah anak-anaknya yang sudah 2 tahun ini tidak pernah lagi dilihatnya. Ya, Diran memang hanya seorang diri di Jakarta, belantara beton. Dia mengais-ngais rizki dari bekerja apa saja. Serabutan. Namun sejak stroke tahun lalu, praktis dia tidak bisa lagi jadi kuli angkut di Pasar Tenabang. Tenaganya seakan lumpuh. Jangankan angkat barang, berjalan pun tertatih-tatih. Sawah sepetak peninggalan sang ayah tercinta sudah lama dilegonya ke Babah Ko Liang, buat menebus obat yang mahalnya selangit. Tiba-tiba lamunannya terusik saat seorang dengan sepeda motor bebek berwarna merah berhenti tepat di depan hidungnya. Diran menunduk saat matanya bersitatap dengan pengendara motor itu. Dia tahu, pasti orang ini akan mengusirnya lagi. Mungkin ini kepala sekolah, atau pak guru. "Pagi pak", sapa Diran sopan sambil wajahnya diupayakan tersenyum. Pengendara sepeda motor itu hanya menganggkuk, tidak tersenyum, wajahnya terkesan tidak suka melihat keberadaan Diran di lokasi itu. "Siapa yang mengizinkan bapak dagang disini?", tanpa basa basi pengendara sepeda motor itu langsung bertanya, bak petugas tramtib. Diran spontan menunjuk ke arah sekolah, tempat dimana ada penjaga sekolah lagi menikmati sarapan paginya. "Maaf pak, tapi tadi saya sudah minta izin ke penjaga sekolah, itu lho yang pegang kunci", jawab Diran membela diri. "Bapak tetap tidak boleh berdagang disini. Ini halaman sekolah. Silahkan Bapak keluar lokasi". Pengendara itu tegas melarang. "Tapi pak, tadi saya sudah izin kok pak, dan boleh katanya, buat hari ini saja kok". Diran masih berkilah. "O, tidak. Saya tetap tidak mengizinkan ada yang jualan disini. Ini halaman sekolah, tidak boleh ada yang jualan di lokasi halaman sekolah. Sekali ada satu dizinkan, yang lain nanti iri". "Hari ini saja pak, tolong pak". "Tidak pak, saya harus menegakkan disiplin. Ini halaman sekolah, silahkan dagang di luar, terserah. Tapi tidak di dalam halaman sini". Diran kehabisan akal lalu bilang,"Ya maaf pak, kalau begitu. Nanti saya pergi deh". "Saya tunggu Bapak pergi sekarang dan mesin sepeda motor ini tidak akan saya matikan sampai Bapak pergi dari sini", pengendara sepeda motor itu tetap bersikeras Diran segera meninggalkan lokasi. Bersungut-sungut Diran memunguti sticker-stickernya. Wajahnya memerah, telinganya panas, hatinya menggelegak. Masak dia diusir kayak gitu. Toh Diran sudah bilang mau pergi, kenapa harus ditunggu sampai pergi? Mata diran nanar mencari mata pengendara sepeda motor itu. Pandangan mata keduanya bersiborok beberapa lama, lalu mulutnya mengeluarkan jawaban yang bernada protes,"Tapi saya bukan maling pak. Saya ini jualan, kenapa sampai ditunggu pergi?". "Saya tidak bilang Bapak maling kok, cuma saya harus pastikan Bapak segera pergi. Maaf kalau saya terkesan galak atau kasar. Tapi Bapak salah kalau berdagang disini". "Saya bukan maling pak, jangan dianggap saya ini orang salah", gerutu Diran sambil berbisik. Stickernya sudah masuk semua ke kotak dan diangkatnya dengan kedua tangannya. Langkahnya terhuyung, nyaris jatuh. Pelan dia mulai gontai melangkah. Duhai, kenapa begini nasib orang lemah dan rendah. Sudah untung mau dagang yang halal, masih saja diusir bagai ternak. Kalau bukan Tuhan di atas sana yang dia masih dia yakini keadilan-Nya, ingin rasanya berteriak protes. Atau mungkin tawaran pak Lukas tetangganya untuk ikut kumpul-kumpul Minggu sore di rumahnya sudah dia terima. Pak Lukas itu orang kaya, hatinya mulia, suka berderma. Banyak tetangganya yang ditolongnya. Dan remaja di desanya sudah tidak terhitung yang dibiayainya meneruskan sekolah. Tapi kata Haji Mukmin, pak lukas itu seorang misionaris. Kerjanya mengajak orang pindah agama lewat topeng kebaikan dan bantuan. Hiii, ngeri kalau tahu beberapa temannya yang sudah jadi aktifis gereja. Malah si Anto anak mendiang Haji Sarip, kini sudah jadi pendeta, karena ulah pak Lukas itu. Kalau seandainya tidak ada iman di dada, ingin rasanya minta bantuan ke pak Lukas tetangganya di desa. Tapi tidak, Allah pasti Maha Adil, Dia pasti tidak akan menelantarkan hamba-Nya. Mungkin semua ini hanya cobaan, apakah imannya kuat atau tidak. Ya Allah, semoga hari ini Aku bisa makan. Sederhana sekali doa Diran. Ya, karena sejak kemarin belum satu pun benda masuk perutnya. ... "Pak, Bapak mau kemana?" Suara pengendara sepeda motor itu tiba-tiba terdengar. Diran menoleh dan enggan menjawab. Dalam hatinya masih gundah, orang ini tadi sudah ngusir, sekarang malah tanya mau kemana. "Bapak mau kemana sekarang?", pengendara sepeda motor itu masih di atas sadel motornya dan mengikutinya dari samping Diran. "Saya mau pergi, tadi kan saya disuruh pergi oleh Bapak". Diran menjawab sekenanya. Dalam hati Diran juga tidak tahu mau kemana. Pulang? Wah, apa hari ini mau kelaparan lagi. Tapi mau kemana? "Saya antar Bapak naik motor saya ini, tapi bilang dulu, bapak mau kemana?" Loh, kok tiba-tiba jadi baik, menawarkan bonceng motor segala? Diran makin bingung. Akhirnya Diran punya ide, mendingan pindah dagang di Sekolah SD negeri. Jaraknya tidak terlalu jauh, tapi lumayan kalau dibonceng motor. "Bapak mau mengantar saya?", tanya Diran ragu."Ya, saya antar bapak sekarng kemana bapak mau. Gimana?", pengendara sepeda motor itu kembali menawarkan jasa baiknya. "Saya..eh ..saya mau ke SD negeri, mau jualan disana". Akhirnya Diran terus terang. "Silahkan naik pak, saya antar kesana sekarang". Agak susah Diran naik ke atas jok sepeda motor itu. Tapi akhirnya berhasil, kotak kartonnya dipegangnya erat, takut jatuh. "Saya minta maaf kalau tadi saya mengusir bapak," pengendara sepeda motor itu membuka percakapan. "Saya adalah ketua yayasan di sekolah ini, saya harus tegakkan disiplin. Bapak memang tidak boleh berdangan disitu, tapi saya bukan mau kejam sama bapak". Diran jadi tidak enak hati. Kalau dipikir-pikir, bapak ini ada benarnya, ya Diran memang salah, halaman sekolah memang tidak untuk berdagang. Tapi berjualan di luar halaman sekolah juga belum tentu ada yang beli. Karena anak-anak sekolah itu tidak diperkenankan jajan di luar halaman. Jadi mau bagaimana lagi. Sepeda motor berjalan lambat di tengah kerumunan lalu lintas padat. Sesekali menyalip kendaraan di depannya. Kadang mengerem karena harus berjalan gantian dengan kendaraan dari arah lawan. "Bapak rumahnya dimana?", pengendara itu mulai akrab bertanya."Anu, saya di Tenabang", jawab Diran. "Jauh sekali bapak dagangnya, sampai kesini, naik apa tadi?". "Saya naik bus kuning itu, bus sekolah". "Keluarga bapak kemana? Kok mereka membiarkan bapak jualan padahal bapak masih sakit?" "Saya tinggal sendirian di Jakarta, pak. Saya dulu kerja di Tenabang, jadi kuli angkut atau kerja apa saja, yang penting halal. Tapi saya kena stroke, jadi saya bisanya ya jualan gini aja", tutur Diran sambil mulai bercerita. "Ya, tapi keluarga Bapak dimana sekarang?" "Semua di Wonogiri, pak. anak saya dan istri saya disana". "Oh, jadi bapak wong Solo?", tanya pengendara itu."Pak, harusnya bapak istirahat di rumah bersama dengan keluarga. Ngapain bapak jualan sementara bapak masih sakit begitu?". "Ya, anu pak, saya kalau tidak jualan ya tidak makan pak. Lha ini baru jualan sebentar saja udah diusir". "Ya, sudah gini aja, saya beli deh stiker bapak itu, semuanya, bagaimana?", pengendara itu memberi tawaran. "Ya boleh pak, stiker saya bagus-bagus kok pak, ada kaligrafi yang tulisan arab juga lho", jawab diran berpromosi. "Tapi sebentar pak, saya tidak bawa uang, dompet pun juga tidak bawa. Tadi saya terburu-buru mengantar anak saya yang terlambat ke sekolah. Kita mampir dulu ke rumah saya, nanti bapak saya antar ke halte bus ya". "Monggo pak, terima kasih,"Diran mulai lega. Ada harapan hari ini bisa makan. Perutnya yang melilit karena lama tidak dilewati makanan memang sudah protes keras. Ternyata rumah bapk pengendara sepeda motor itu adalah rumah pemilik yayasan. Dulu sekolah itu ada disini, tapi sekarang karena ada proyek pembangunan mal, sekolah itu digeser dan dibangunkan gedung yang jauh lebih megah. Oh ternyata, pengendara sepeda motor itu ya pak ustadz yang ketua yayasan. Kayaknya Diran pernah liat dulu, karean Diran pernah jualan stiker di sekolah yang kini bangunannya sudah tua. Tadi pagi pun Diran sudah ke tempat ini, ternyata sepi. Mang Ucup tukang teh Botol bilang bahwa sudah 6 bulan ini sekolah pindah ke lokasi baru, beberapa ratus meter dari tempat ini. Ya tempat tadi Diran sempat menggelar dagangannya tapi keburu diusir. "Coba lihat pak, mana stiker-stikernya", tiba-tiba pengedara sepeda motor yang ternyata pak ketua yayasan keluar. Di belakangnya ada anak dengan seragam TK mengikuti."Adam, kamu pilih tuh mana stiker yang kamu suka". Anak kecil yang dipanggil Adam pun sibuk membolak balik stiker-stiker yang kembali digelar Diran. Adam mengambil stiker bergambar spiderman,"Aku mau yang ini ya ami Awat". "Boleh, ambil saja, Ami Awat nanti yang bayar". "Pak, berapa harga semua stiker ini?". "Saya hitung dulu ya pak". Diran mulai sibuk menghitung, tangannya gemetar. Kali ini bukan karena stroke, tapi surprise. Tadi orang ini ngusir-ngusir, tapi sekarang malah mau memborong sitkernya. Ya untung besar aku hari ini, pikir Diran. Tidak usah capek melayani anak-anak, eh semua jualan diborong habis. "Pak, semuanya seharga 60 ribu pak. Tapi karena diborong, ya 50 ribu saja deh", Diran mencoba membalas jasa. Uang berwarna biru 50 ribuan segera pindah tangan. "Ini uangnya pak, 50 ribu". "Terima kasih pak, eh ... pak guru". Diran bingun mau panggil siapa. Sudah lah panggil saja pak guru. Toh beliau kan juga guru pastinya. "Dan ini buat Bapak, sedekah dari saya". Mata Diran terbelalak, selembar uang seratus ribuan disodorkan ke arahnya. "Jangan..jangan pak, saya udah ikhlas, saya sudah senang dagangan saya laku", Diran merasa kebaikan pak ketua yayasan ini sudah melebihi apa yang dia harapkan. Wahai, betapa besar keagungan-Mu Ya Allah, baru saja Diran berpikir tentang pastinya Keadilan Allah, tiba-tiba Dia langsung tunjukkan secepat itu. Uang 100 ribuan itu tiba-tiba dimasukkan ke saku kemeja lusuh Diran. Padahal disana sudah ada uang 50 ribuan, hasil penjualan stiker. Sekarang masih ditambah 100 ribu. Duh Gusti Pangeran, terima kasih atas semua pemberian-Mu pagi ini. Engkau Maha Adil dan Engkau Maha Kuasa. Ya, Maha Kuasa dalam mengetuk pintu hati hamba-Mu. Maafkan saya ya Allah, tadinya hampir saya berpraduga yang tidak benar. Tapi Engkau tunjukkan Kebesaran-Mu. "Pak, ayo saya antar ke tempat bapak naik bus", suara pak yayasan membuyarkan munajat Diran. "Oh iya iya, sebentar saya bereskan kotak-kotak ini. Pak guru, terima kasih banyak ya pak". Diran kehabisan kata-kata mengucapkan syukur. "Doakan saya pak", jawab pak yayasan itu singkat sambil tersenyum. Perseneling diinjak, gas diputar dan sepeda motor pun bergerak menuju jalan raya. Langit membiru, awan-awab mendung menyingkir, mentari kembali menumpahkan sinarnya ke bumi. Menyemburatkan rasa syukur kepada Allah.

Jakarta, Jan 09

Semua Tulisan Penulis :
52 Trilyun Biaya Untuk Lebaran : Syar`ikah?
20 September 2010, 00:00 | 19.038 hits
Ketika WTC Runtuh (9 Tahun Kemudian)
11 September 2010, 00:00 | 17.750 hits
Situs Hadits Onlinet : Teks Arab Plus Terjemah dan Search Engine
11 September 2010, 00:00 | 22.904 hits
Perbedaan Zakat Infaq dan Sedekah
8 September 2010, 00:00 | 21.562 hits
Sudah Shalat Ied Hari Jumat, Apa Masih Wajib Shalat Jumat?
7 September 2010, 00:00 | 21.639 hits
Muhammad Al-Fatih Sang Penakluk Konstantinopel 1453
29 August 2010, 00:00 | 27.449 hits
Ramadhan dan TV
15 August 2010, 00:00 | 21.291 hits
Amerika : Negeri Muslim Yang Dimurtadkan (bag. 3)
7 August 2010, 00:00 | 24.138 hits
Amerika : Negeri Muslim Yang Dimurtadkan (bag. 2)
6 August 2010, 00:00 | 20.738 hits
Saatnya Mengubah Sistem Kepemimpinan
5 July 2010, 00:00 | 17.307 hits
Kunjungan ke Universitas Islam Antar Bangsa (IIUM)
22 June 2010, 00:00 | 25.467 hits
Saung Istiqamah KBRI Singapore : Fiqih Minoritas
20 June 2010, 00:00 | 20.129 hits
Mau Dirikan Khilafah? Mulailah Dari Sekarang
8 June 2010, 00:00 | 18.506 hits
Kuliah di LIPIA
6 June 2010, 00:00 | 33.120 hits
Israel vs Umat Islam
5 June 2010, 00:00 | 19.478 hits
Melawan Amerika Ala Jepang
13 March 2010, 00:00 | 18.574 hits
Ensiklopedi Fiqih Online Berbahasa Indonesia
9 March 2010, 00:00 | 25.063 hits
45 Jilid Ensiklopedi Fiqih Terlengkap
4 March 2010, 00:00 | 28.963 hits
Printing On Demand (Mencetak Buku Sebiji)
28 February 2010, 00:00 | 29.863 hits
Hukum Lelang
20 February 2010, 00:00 | 19.626 hits
Nikah Siri : Solusi Atau Intimidasi?
18 February 2010, 00:00 | 26.160 hits
Wakaf Buku Fiqih Mawaris, Mau?
13 February 2010, 00:00 | 21.543 hits
Dengar Ceramah HAMKA di Youtube
12 February 2010, 00:00 | 22.097 hits
Kitab Online Hasil Scan = Bajakan?
10 February 2010, 00:00 | 28.240 hits
Pelatihan Dasar Faraidh (PDF) di DU CENTER
22 January 2010, 00:00 | 18.876 hits
Tabel Waris,  Materi dan Buku For Free
16 January 2010, 00:00 | 24.895 hits
Iblis Liberal
26 December 2009, 00:00 | 20.796 hits
Berpindah-Pindah Madzhab
7 December 2009, 00:00 | 16.840 hits
Wakaf Ilmu :Metode Mendatangkan Pahala Abadi
12 October 2009, 00:00 | 20.425 hits
Jam Gempa & Klenik Nomor Ayat Al-Quran
8 October 2009, 00:00 | 36.336 hits
Alahumma Laka Shumtu : Hadits Dhaif?
10 September 2009, 00:00 | 25.840 hits
Ramadhan dan Polisi
7 September 2009, 12:23 | 18.671 hits
Dilemma PNS Jujur
3 September 2009, 00:00 | 20.215 hits
Ramadhan : Bulan Petasan?
26 August 2009, 00:00 | 32.685 hits
Ramadhan dan Produktifitas Kerja
25 July 2009, 00:00 | 19.445 hits
Bercermin Dengan Yahudi (2)
16 June 2009, 00:00 | 17.351 hits
Bercermin Dengan Yahudi (1)
15 June 2009, 00:00 | 19.184 hits
Masuknya Islam ke Indonesia
13 June 2009, 00:00 | 31.889 hits
Buya Hamka dan KH Abdullah Syafi`i
7 June 2009, 00:00 | 25.630 hits
Daftar Tempat Ceramah
31 January 2009, 00:00 | 27.239 hits
Hukum Musik Dalam Pandangan Syariah
31 January 2009, 00:00 | 22.183 hits
Ke Al-Jazeera Channel Doha Qatar
21 September 2008, 00:00 | 25.285 hits
Qatar Selayang Pandang
20 September 2008, 00:00 | 30.373 hits
Ceramah ke Qatar
19 September 2008, 00:00 | 19.162 hits
Tunjangan Bayi Jepang 30 Juta Per Tahun Per-anak
6 May 2008, 00:00 | 15.327 hits
Mengunjungi Hiroshima (Dakwah ke Jepang bag. 5)
5 May 2008, 00:00 | 32.980 hits
Jadwal Ceramah (Dakwah ke Jepang bag. 4)
4 May 2008, 00:00 | 24.878 hits
Masjid Kobe (Dakwah ke Jepang bag. 3)
3 May 2008, 00:00 | 15.659 hits
Islam dan Jepang ((Dakwah ke Jepang bag. 2)
2 May 2008, 00:00 | 21.597 hits
Dakwah ke Jepang (bag. 1)
1 May 2008, 00:00 | 13.557 hits
Haji Basir (bag. 2)
9 September 2007, 00:00 | 10.846 hits
Haji Basir
9 June 2007, 00:00 | 15.857 hits
Lahir di Mesir
8 June 2007, 00:00 | 17.928 hits