Ceramah ke Qatar | ahmadsarwat.com

Ceramah ke Qatar

Fri 19 September 2008 00:00 | 19162

Suatu hari, saat ritual harian buka-buka email, tiba-tiba saya menemukan ada sebuah email yang dikirim panitia kegiatan Ramadhan dari Permiqa (persatuan qatar). Isinya? Undangan untuk ceramah selama bulan Ramadhan di Qatar. Wah, serba salah nih, mau diterima gimana, nggak diterima juga gimana", pikir saya dalam hati.

Sebab biasanya, selama bulan Ramadhan, ada kegiatan dan jadwal ceramah yang lumayan padat di Jakarta. Kalau harus memenuhi undangan ke Qatar, bagaimana nanti urusan di `dalam negeri`?. Itulah keraguan yang sempat muncul di awal ketika menerima undangan dari panita. Bukan apa-apa, sebab durasinya lumayan panjang, 10 hari lebih. Ustadz KH. Didin Hafidudin sebagai pembicara pertama, bisa dapat cuma 7 hari.

Eh, giliran saya minta waktunya dipercepat, panitia bilang justru kami berharap ustadz bisa mengganti hari-hari yang pak Didin berhalangan. Eealah...mau cepet malah jadi paling lama. Tapi karena panita terus mendesak, bahkan main `ancam` harus segera memberi jawaban, mau tidak mau kudu dijawab. Sebab mereka ingin urusannya dari jauh-jauh hari selesai. Kalau bisa ya bisa dan kalau nggak bisa, mau dicarikan alternatif lain.

Akhirnya setelah diskusi dan atur jadwal sana-sini, jawaban ya terkirim juga. Maka panitia segera mengurus mulai dari visa, ticket dan lainnya. Hebat, ticketnya elektrik, visanya juga. Jepang saja yang sudah maju begitu, ngurus visa masih traditionil. Harus foto warna lah, ukurannya harus 4x6 lah, tidak boleh miring lah, harus ada pengantar dari perusahaan atau kantor lah, harus ini dan harus itu. Terlambat masukkan berkas, ditolak dan harus datang besoknya Dihitung-hitung, 15 hari baru jadi.

Sedangkan urusan visa ke Qatar, sama sekali tidak pakai modal. Semua diurus oleh teman-teman panitia di Qatar. Lalu sebuah imel berisi attachment visa nongol di layar laptop, tinggal diprint dan waktu mau terbang, dibawa plus print out ticket. Dan urusannya sesederhana itu. Saya sampai berkali-kali meminta kepastian, apakah memang cukup bawa pasport dan visa serta ticket hasil print-printan? Mereka jawab cukup itu saja. Tanpa surat pengantar, undangan dari KBRI atau tetek bengek lainnya. Nah inilah contoh negara maju, semua birokrasi cukup lewat jalur maya dan ....semua beres. 

Saya terbang ke Qatar naik Etihad Airwaisy. Memang lumayan mewah disain interiornya. Tidak rugi naik pesawat model gini. Take off dan landingnya pun mulus, tidak asal gubrak sehingga bikin ketakutan naik pesawat hilang dengan sendirinya. Lagian, pelayanannya juga tidak mengecewakan.

Seperti seorang teman pernah bilang, kita kalau naik pesawat bangsa sendiri, bisa capek nungguin makan. Nah kalau pesawat model negara teluk begini, kita capek karena tiap saat makanan nggak pernah berhenti beredar. Yang lebih keren lagi adalah kelas bisnis dan utama. Wah selain keren, penumpangnya dimanjain banget. Bisa selonjoran atau tidur lurus dan lempeng.

Entah berapa harga tiketnya. Namanya juga ticket gratis dari panitia, dapet kelas ekonomi juga sudah syukur. Saya jadi ingat ceramah Zaenudin MZ, kita bisa beli tempat tidur yang harganya ratusan juga, tapi belum tentu bisa beli yang namanya tidur pulas. Selain makanan, sepanjang perjalanan dari Cengkareng sampai Abu Dhabi, semua penumpang dimanjakan dengan kotak ajaib yang terdapat di setiap sandara kursi.

Ya, TV atau monitor interaktif. Mau dengar lagu, nonton acara TV, bioskop, main game atau sekedar ingin tahu peta perjalanan pesawat, semua tinggal pencet. Pakai layar sentuh, cing. Ternyata pesawat ini terbangnya kenceng juga ya. Kecepatannya sampai 950 km per jam. Kalau di darat udah terbang tuh. Hehe eya lah, namanya juga pesawat terbang. Rata-rata suhu di luar minus 40 derajat celsius. Wah, berarti kalau kita lihat adegan di film Hollywood, ada jagoan berantem di atas badan pesawat yang lagi terbang, sudah pasti bohong.

Dengan adanya sistem informasi ini, penumpang dimanjakan dengan informasi, mulai dari arah penerbangan, peta, jarak ke kota tujuan, bahkan jarak ke Mekkah. Termasuk berapa lama lagi sampainya pesawat ini, dan berapa km lagi jaraknya. Semua tersedia lengkap dan real time. Mantap. Yah. lumayan dari pada bengong terbang 7 jam nonstop, bisa nonton the Ironman dan Geting Meried-nya si Nirina Zubir. Kalau di rumah sudah pasti tidak sempat nonton film gituan. Tapi kalau judulnya dari pada bengong di kursi kelas ekonomi, ya apa boleh buat. Si adik kecil yang duduk di depan saya malah lagi tertawa ngakak terpingkal-pingkal.

Wah rupanya dia lagi nonton Kungfu Panda. Kenapa kalau naik maskapai negeri sendiri, tidak ada fasilitas seperti itu ya?

Meski maskapai ini milik orang Arab, tapi bahasa komunikasi para awak malah bukan arab. Sebab ketika saya ajak dia bicara pake bahasa Arab, dia malah geleng-geleng kepala. Yah, percuma deh, ternyata dia malah tidak bisa bahasa Arab, meski muslim. (bersambung)

Semua Tulisan Penulis :
Tunjangan Bayi Jepang 30 Juta Per Tahun Per-anak
6 May 2008, 00:00 | 15.327 hits
Mengunjungi Hiroshima (Dakwah ke Jepang bag. 5)
5 May 2008, 00:00 | 32.980 hits
Jadwal Ceramah (Dakwah ke Jepang bag. 4)
4 May 2008, 00:00 | 24.878 hits
Masjid Kobe (Dakwah ke Jepang bag. 3)
3 May 2008, 00:00 | 15.659 hits
Islam dan Jepang ((Dakwah ke Jepang bag. 2)
2 May 2008, 00:00 | 21.597 hits
Dakwah ke Jepang (bag. 1)
1 May 2008, 00:00 | 13.557 hits
Haji Basir (bag. 2)
9 September 2007, 00:00 | 10.846 hits
Haji Basir
9 June 2007, 00:00 | 15.857 hits
Lahir di Mesir
8 June 2007, 00:00 | 17.928 hits