Haji Basir | ahmadsarwat.com

Haji Basir

Sat 9 June 2007 00:00 | 15857

Seperti umumnya orang betawi, puncak keberhasilan hidupnya ditandai dengan pergi haji dan membangun masjid. Tapi berhubung sudah ada masjid di depan rumah, maka Haji Basir berniat membangun madrasah yang dapat mengajarkan ilmu-ilmu agama. Masjid yang reyot di depan rumahnya itu karena sudah rusak termakan zaman, direhabnya secara total dengan dana pribadinya.

Haji Basir tidak pernah menamakan masjid itu dengan sebutan dirinya, tapi para tukang becak terlanjur menamai masjid itu sebagai masjid Haji Basir. Mungkin mereka tahu bahwa masjid itu yang menegakkan kembali bangunannya dengan bahan bangunan yang permanen adalah Haji Basir.

Biasanya di zaman dulu, orang menyebut nama masjid dikaitkan dengan nama kiyai atau guru tetep yang mengajar mengaji di masjid itu. Padahal Haji Basir bukan seorang guru ngaji. Beliau tidak pernah bermukim di Mekkah sebagaimana umumnya kiyai betawi. Beliau pernah ke Mekkah untuk pergi haji, tapi tidak mukim.

Orang lebih mengenal Haji Basir memang bukan sebagai kiyai, tetapi sebagai seorang dermawan. Profesinya sendiri adalah seorang pengusaha properti, kerjanya bikin jalanan atau bangunan. Usaha yang sejak muda dirintisnya dengan tekun.

Tapi yang membedakan Haji Basir dengan orang lain adalah kedermawanannya. Hartanya yang berlimpah itu kebanyaknnya disumbangkan buat membangun masjid, musholla, membantu orang miskin dan sejenisnya.

Beberapa masjid bersejarah di Jakarta, seperti Masjid Kwitang tempat Habib Ali Al-Habsyi yang legendari istu juga pernah dibangunnya. Demikian juga pesantren di Bekasi Lemah Abang, juga dibantu mendirikan bangunannya.

Pendeknya, dimana pun beliau sedang punya proyek, disitulah beliau bangun masjid. Setidaknya semua pekerjanya bisa beliau perintahkan untuk shalat.

Para kuli dan pekerja yang kerja dengan Haji Basir hafal betul kebiasaan bosnya ini. Kalau sampai kerja tidak shalat, bisa-bisa dipecat atau dimarahi habis-habisan.

Konon, Haji Basir itu tidak mau terima tamu antara Maghrib dan Isya. Bukan apa-apa, beliau sedang wiridan.

Haji Basir memang tinggal di Pedurenan, tetapi sebenarnya beliau berasal dari daerah Buaran Cakung di pinggiran Jakarta. Orangtuanya menitipkan dirinya belajar mengaji kepada Guru Haji Sidik di Pedurenan. Singkatnya, kemudian dipungut mantu oleh kiyainya itu. Maka jadilah Haji Basir tinggal di rumah mertua dengan usaha berjualan nasi kecil-kecilan. Istri tercinta yang memasak dan menyiapkan semua bahan dagangan, suami yang menjajakannya seharian.

Haji Basir mangkal jualan nasi di proyek pembangunan, dimana pelanggannya adalah para kuli kasar. Sampai akhirnya pimpinan proyek yang orang Belanda itu tertarik dengan penjual nasi yang pandai mencatat hutang pelanggan. Di zaman segitu, ada tukang nasi bisa menulis apalagi mencatat, sudah merupakan hal yang luas biasa.

Mana ambtenar Belanda itu (orang betawi bilangnya anemer) minta Haji Basir jadi stafnya, tidak usah jualan nasi lagi. Maka sejak itu Haji Basir ikut jadi staf di perusahaan properti dan tahu banyak urusan detail pekerjaannya.

Sampai suatu ketika Haji Basir mampu mendirikan CV sendiri dan menjadi pemborong bangunan tersohor di seantero Jakarta. Sampai jadilah beliau orang berada dan punya banyak harta dimana-mana.

Sebagai muslim yang taat, inginnya Haji Basir agar semua anaknya mendapat pendidikan agama yang baik. Maka semua anak laki-lakinya dikirim ke pesantren. Terutama yang bandel dan agak dikhawatirkan terkena pengaruh pergaulan yang tidak baik. Sementara anaknya yang rada alim dan penurut, diperbolehkan sekolah di SMP dan SMA.

Namun satu cita-cita Haji Basir yang semasa hidup belum tercapai, yaitu beliau ingin punya madrasah, dimana setiap hari madrasahnya itu ramai dikunjungi anak-anak yang belajar ilmu agama.

Maka jauh sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Haji Basir sudah berpesan agar di atas tanahnya nanti dibangun sebuah madrasah. Salah seorang puteranya yang masih di Mesir, diharapkan nanti pulang dan mendirikan madrasah itu.

Tapi tahun 1972 ketika Haji Basir dipanggil Allah SWT, tanahnya masih kosong, bangunan madrasah impiannya belum ada, puteranya yang diharapkan membangun madrasah itu masih di Mesir. Beliau wafat membawa mimpinya, sebuah madrasah yang mengajarkan agama Islam.

(bersambung)

Semua Tulisan Penulis :
Lahir di Mesir
8 June 2007, 00:00 | 17.928 hits