Lahir di Mesir | ahmadsarwat.com

Lahir di Mesir

Fri 8 June 2007 00:00 | 17928

Apa sih istimewanya lahir di Mesir? Begitu saya bertanya saat memulai ceramah di Wisma Nusantara di Nasser City Cairo di depan para mahasiswa Indonesia yang sedang belajar disana. Bukan apa-apa saya bertanya begitu, sebab pak MC sebelum mempersilahkan saya naik mimbar, sempat kasih komentar bahwa penceramah kita ini sangat istimewa, karena beliau lahir di Mesir. halah

Maka saya jawab, Firaun juga lahir di Mesir kok. Gak ngaruh kale. Cuma memang kadang kalau pas membaca CV saya dan melihat t/tgl lahir, bnayak yang bertanya, kok bisa lahir di Mesir? Gimana ceritanya?

Jawabnya ya bisa saja. Karena kebetulan kedua orang tua saya memang pernah menimba ilmu di negeri itu. Lalu mereka menikah disana dan lahirlah saya di Cairo tahun 1969, tepatnya pada tanggal 19 September.

Saat itu Mesir masih di bawah pimpinan Gamal Abden Naser. Salah seorang tokoh yang menjadi menteri pendidikan bernama Sarwat Ukasyah. Konon dari nama tokoh itulah saya diberi nama Sarwat, yang dalam bahasa Arab bermakna kekayaan atau potensi.

Tsarwatul alam, berarti kekayaan alam. atau rajulun tsari, berarti orang yang kaya. Tapi saya sendiri lebih senang memperkenalkan diri dengan sebutan Ahmad. Kenapa?

Karena nama itu adalah nabi Nabi Muhammad SAW, dan terdapat di dalam Al-Quran. Dan ketika Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad." (QS. As-Shaf : 6)

Selain itu buat telinga orang Indonesia, nama Ahmad lebih mudah diingat. Bahkan buat orang arab, nama Ahmad juga sangat populer. Jadi kalau kenalan, nama yang selalu saya sebut untuk diri saya adalah : Ahmad.

Tapi kalau saya bertemu dengan orang Mesir, lain lagi ceritanya. Biasanya saya akan bilang bahwa nama saya adalah Sarwat. Sambil ditambahi bahwa saya (numpang) lahir di negeri ente, ya sidi.

Biasanya orang Mesir lantas girang bukan main kalau bertemu dengan orang yang punya nama khas Mesir. Apalagi sempat numpang lahir di kampungnya.

enta mashri miah bil miah, gitu biasanya orang Mesir berkomentar. Maksudnya, kamu ini orang Mesir asli 100%. Ala syan dzuqta muya niel, lantaran udah nyobain air sungai nil. Halah... aya-aya wae akang Mesir atuh.

Orang tua saya, baba, begitu saya menyapanya, menggenapkan 16 tahun tinggal di Mesir. Kuliah di Cairo University lalu bekerja menjadi lokal staf di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Cairo.

Sedangkan ibu saya, mama, begitu saya menyapanya, kuliah di Al-Azhar University di kuliatul banat, selepas dari kuliah di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pernikahan mereka di tahun 1968 boleh dibilang sejarah pertama pernikahan sesama mahasiswa dan mahasiswi Indonesia di Cairo. Jadi konon pernikahan itu dilangsungkan secara sederhana, dihadiri oleh kawan-kawan dan juga para staf KBRI. Pak Dubes yang menjawab saat itu kalau tidak salah adalah Jenderal Mokoginta.

Baba sebelum menikah sudah tinggal di sebuah flat di kawasan Sayyidah Zaenab, salah satu pojokan Cairo. Dan di rumah itulah kemudian kami tinggal. Di dekatnya ada masjid peninggalan sejarah, yaitu masjid Sayyidah Zaenab, puteri Rasulullah SAW.

Di usia 2-3 tahun, baba mama memutuskan untuk mengamalkan ilmu mereka di tanah air, walau pun hidup di Cairo -konon- lebih enak dan sudah establish. Apalagi punya kedudukan sebagai staf di KBRI, gajinya dolar pula.

Tapi panggilan tugas untuk berdakwah dan membenahi umat di tanah air sebagaimana cita-cita kedua orang tua dulu tidak bisa ditampik. Maka pulanglah kami ke tanah air di tahun 1972. Praktis saya cuma numpang lahir doang di Mesir. Bisa sih ngomong Mesir dikit-dikit, paling cuma bisa bilang, yakhrab betak....uppss.

Urusan belajar bahasa Arab tidak saya dapatkan sewaktu di Mesir, tapi ketika kuliah di LIPIA Jakarta. Tapi dosen-dosen yang mengajar memang orang Mesir asli. Jadi kalau dibilang saya belajar bahasa arab dari orang Mesir, sebenarnya tidak salah-salah amat.

Bahkan sampai sekarang pun saya masih menjalin kontak dengan Doktor Syihab An-Namir, dosen sewaktu di LIPIA yang kini tinggal di Hadaiq Hilwan, pinggiran Cairo. Beliau dulu mengajar Nahwu sewaktu saya di LIPIA. Dan ketika kemarin saya sempat menginjakkan kaki kembali ke Cairo, beliau sempat saya temui di flatnya.

Dan kini Mesir menjadi negeri sejuta kenangan buat saya pribadi. Di Mesir saya lahir dan dari bangsa Mesir belajar bahasa arab dan Syariah Islam.

Ketika baca novel karya Habiburrahman, saya hanya senyum-senyum saja. Semua tempat yang diceritakan di novelnya itu memang pernah saya kunjungi. Bahkan gaya kehidupan Mesir yang khas itu pun memang sangat saya kenal. Kenapa? Karena saya lahir di Mesir.

Semua Tulisan Penulis :